Surat Dukungan dari Istri Caleg PKS

Oleh: Cahya Mentari

Dear ,

Aku masih mengingat peristiwa 10 tahun lalu. Suatu sore saat mengikuti forum melingkar, datanglah pesan singkat darimu. Sebuah pesan terusan dari seorang pengurus DPD yang bahkan tidak kukenal namanya karena kita masih berstatus pendatang waktu itu.

“Tolong hadir ke DPD untuk pemotretan guna memenuhi berkas pencalegan tingkat kabupaten.”

Hah?

Apa?

Pemotretan?

Siapa?

Untuk apa?

Kok tiba-tiba?

Serentetan pertanyaanku yang kau jawab, “Entahlah aku kaget juga. Akan ku konfirmasi terlebih dahulu ya. Jika memang benar untukku, apa pendapatmu?”

Pertanyaan terakhir sungguh berat bagiku untuk menjawabnya, “Kalau masih bisa tidak, bagaimana jika kita tolak saja?”

Getir. Karena kita sama-sama tahu. Di satu sisi amanah memang berat. Di sisi lain, amanah selalu memilih ‘tuan'nya dengan tepat–tentu atas seizin Allah ya.

Tapi tidak ada salahnya menghindar kan? Toh kita tetap bisa menawarkan diri berperan untuk amanah lain. Apalagi saat itu kita merasa bahwa kita masih terlalu muda. Masih banyak cita-cita, juga masih banyak petualangan yang ingin dicoba.

Sebagai ? Kita tahu betul sumber daya yang ada jauh dari cukup. Ekonomi keluarga masih pontang-panting. Sebagai ‘anak pasca-kampus' yang minim pengalaman blusukan ke pelosok desa, relasi kita tak seberapa. Sesama kader pun sedikit sekali yang pernah berinteraksi. Bagaimana tidak, kan kita kader pindahan.

Laman: 1 2 3

Tags: , ,